Daerah berwarna biru menunjukan negara anggota G-20; biru muda menunjukan anggota Uni Eropa yang tidak diwakili oleh satu negara sendiri. G-20 atau Kelompok 20 ekonomi utama adalah kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah dengan Uni Eropa.
Secara resmi G-20 dinamakan The Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors atau Kelompok Duapuluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral.
Kelompok ini dibentuk tahun 1999 sebagai forum yang secara sistematis menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi maju dan berkembang untuk membahas isu-isu penting perekonomian dunia. Pertemuan perdana G-20 berlangsung di Berlin, 15-16 Desember 1999 dengan tuan rumah menteri keuangan Jerman dan Kanada. Selanjutnya Singkatan G-20.
Latar belakang pembentukan forum ini berawal dari terjadinya Krisis Keuangan 1998 dan pendapat yang muncul pada forum G-7 mengenai kurang efektifnya pertemuan itu bila tidak melibatkan kekuatan-kekuatan ekonomi lain agar keputusan – keputusan yang mereka buat memiliki pengaruh yang lebih besar dan mendengarkan kepentingan - kepentingan yang barangkali tidak tercakup dalam kelompok kecil itu. Jenis organisasi ini adalah sebuah organisasi yang berkarakterkan Forum konsultasi. Adapun tujuannya adalah "Mewadahi negara-negara industri dan berkembang secara bersama - sama mendiskusikan berbagai masalah kunci di bidang ekonomi dunia."
Kantor pusat G20 ini berpindah – pindah. Berikut penjelasannya. Pertemuan G-20/G-20 Summits of Financial Ministers diadakan setahun sekali di negara yang menjadi anggota G-20. Pertemuan G-20 pertama kali diadakan di Berlin, Jerman tahun 1999. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan G-20 pada tahun 2013.
• 1999: Berlin, Jerman
• 2000: Montreal, Kanada
• 2001: Ottawa, Kanada
• 2002: Delhi, India
• 2003: Morelia, Meksiko
• 2004: Berlin, Jerman
• 2005: Beijing, Cina
• 2006: Melbourne, Australia
• 2007: Cape Town, Afrika Selatan
• 2008: São Paulo, Brazil, 18 November
• 2008: Washington, D.C., USA (pertemuan Kepala Pemerintahan)[2]
• 2009: London, Britania Raya, 18 Maret (ditambah pertemuan Kepala Pemerintahan pada tanggal 2 April 2009)[3]
• 2010: Nairobi, Kenya
• 2011: Selandia Baru
• 2012: Britania Raya
• 2013: Bali, Indonesia
• 2014: Jeddah, Arab Saud
Wilayah layanan orgasnisasi ini adalah seluruh bagian dunia Keanggotaan. Anggota G20 itu antara lain :
Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Republik Rakyat Cina, Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arabsaudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Britania Raya, Amerika Serikat, Uni Eropa.
G-20 tidak memiliki staf tetap. Kursi ketua dirotasi di antara anggota-anggotanya dan dipegang oleh Troika yang beranggotakan tiga anggota: ketua tahun berjalan, ketua tahun lalu, dan ketua tahun berikut. Sistem ini dipilih untuk menjamin keberlangsungan kegiatan dan pengelolaan. Ketua tahun berjalan membuka sekretariat tidak tetap yang buka hanya selama masa tugasnya.
Sebagian besar anggota adalah negara-negara dengan Keseimbangan Kemampuan Berbelanja (PPP) terbesar dengan sedikit modifikasi. Belanda, Polandia, dan Spanyol, yang termasuk big 20, diwakili oleh Uni Eropa. Iran dan Taiwan tidak diikutsertakan. Thailand juga tidak diikutsertakan, walaupun posisinya di atas Afrika Selatan.
Sebagai forum ekonomi, G-20 lebih banyak menjadi ajang konsultasi dan kerja sama hal - hal yang berkaitan dengan sistem moneter internasional. Terdapat pertemuan yang teratur untuk mengkaji, meninjau, dan mendorong diskusi di antara negara industri maju dan sedang berkembang terkemuka mengenai kebijakan-kebijakan yang mengarah pada stabilitas keuangan internasional dan mencari upaya-upaya pemecahan masalah yang tidak dapat diatasi oleh satu negara tertentu saja.
G20 adalah sebuah forum yang bukan formal.
90% GDP dan 80% perdagangan dunia dikontribusikan oleh G20 ini. Indonesia termasuk dalam Negara G20 ini. Terbentuknya G20 pada tahun 1990an sebenarnya untuk memfasilitasi diantara anggota-anggotanya, baik Negara maju atau berkembang dalam menghadapi permasalahan ekonomi di dunia.
Dari itu semua, kita dapat membayangkan bagaimana keadaan Negara – Negara lain yang tidak terlibat di dalam G20 ini. Karena pada prinsipnya G20 ini adalah “mensejahterakan” anggotanya saja, lantas bagaimana dengan kesejahteraan mereka yang tidak termasuk dengan keanggotaan ini??? Apakah ini adalah bentuk konspirasi dunia modern yang ada dalam mengantisipasi sekaligus “trap” mutakhir bagi Negara – Negara berkembang??? Entahlah……
Yang pasti, dapat dipastikan bahwa dalam setiap pertemuan yang terselenggara secara tahunan ini sangat sarat bahkan kental dengan racikan bumbu – bumbu kapitalisme moderat pada setiap program – programnya. Di sisi lain, sebenarnya kita bisa berfikir mengenai G20 ini adalah sebuah manipestasi “berkelidnya” Negara – Negara kapitalis dari ketidak sempurnaan kapitalisme sebagai sebuah system perekonomiannya, yang katanya bahkan sudah menduania. Benarkah???
Bayangkan, kalau 90% GDP hanya berada dalam lingkaran G20 ini, dimana fungsi distribusi ekonomi??? Belum lagi ditambah dengan 80% perdagangan yang hanya pada lingkaran G20 ini pula… dimanakah keadilan capitalism system yang digembar – gemborkan para bapak ekonominya???
Apakah ada sebuah solusi alternative konkrit untuk mengatasi itu semua??? Jawabnya pasti ada. (Mohamad Toyyib Wibiksana)
Secara resmi G-20 dinamakan The Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors atau Kelompok Duapuluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral.
Kelompok ini dibentuk tahun 1999 sebagai forum yang secara sistematis menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi maju dan berkembang untuk membahas isu-isu penting perekonomian dunia. Pertemuan perdana G-20 berlangsung di Berlin, 15-16 Desember 1999 dengan tuan rumah menteri keuangan Jerman dan Kanada. Selanjutnya Singkatan G-20.
Latar belakang pembentukan forum ini berawal dari terjadinya Krisis Keuangan 1998 dan pendapat yang muncul pada forum G-7 mengenai kurang efektifnya pertemuan itu bila tidak melibatkan kekuatan-kekuatan ekonomi lain agar keputusan – keputusan yang mereka buat memiliki pengaruh yang lebih besar dan mendengarkan kepentingan - kepentingan yang barangkali tidak tercakup dalam kelompok kecil itu. Jenis organisasi ini adalah sebuah organisasi yang berkarakterkan Forum konsultasi. Adapun tujuannya adalah "Mewadahi negara-negara industri dan berkembang secara bersama - sama mendiskusikan berbagai masalah kunci di bidang ekonomi dunia."
Kantor pusat G20 ini berpindah – pindah. Berikut penjelasannya. Pertemuan G-20/G-20 Summits of Financial Ministers diadakan setahun sekali di negara yang menjadi anggota G-20. Pertemuan G-20 pertama kali diadakan di Berlin, Jerman tahun 1999. Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan G-20 pada tahun 2013.
• 1999: Berlin, Jerman
• 2000: Montreal, Kanada
• 2001: Ottawa, Kanada
• 2002: Delhi, India
• 2003: Morelia, Meksiko
• 2004: Berlin, Jerman
• 2005: Beijing, Cina
• 2006: Melbourne, Australia
• 2007: Cape Town, Afrika Selatan
• 2008: São Paulo, Brazil, 18 November
• 2008: Washington, D.C., USA (pertemuan Kepala Pemerintahan)[2]
• 2009: London, Britania Raya, 18 Maret (ditambah pertemuan Kepala Pemerintahan pada tanggal 2 April 2009)[3]
• 2010: Nairobi, Kenya
• 2011: Selandia Baru
• 2012: Britania Raya
• 2013: Bali, Indonesia
• 2014: Jeddah, Arab Saud
Wilayah layanan orgasnisasi ini adalah seluruh bagian dunia Keanggotaan. Anggota G20 itu antara lain :
Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Republik Rakyat Cina, Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arabsaudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Britania Raya, Amerika Serikat, Uni Eropa.
G-20 tidak memiliki staf tetap. Kursi ketua dirotasi di antara anggota-anggotanya dan dipegang oleh Troika yang beranggotakan tiga anggota: ketua tahun berjalan, ketua tahun lalu, dan ketua tahun berikut. Sistem ini dipilih untuk menjamin keberlangsungan kegiatan dan pengelolaan. Ketua tahun berjalan membuka sekretariat tidak tetap yang buka hanya selama masa tugasnya.
Sebagian besar anggota adalah negara-negara dengan Keseimbangan Kemampuan Berbelanja (PPP) terbesar dengan sedikit modifikasi. Belanda, Polandia, dan Spanyol, yang termasuk big 20, diwakili oleh Uni Eropa. Iran dan Taiwan tidak diikutsertakan. Thailand juga tidak diikutsertakan, walaupun posisinya di atas Afrika Selatan.
Sebagai forum ekonomi, G-20 lebih banyak menjadi ajang konsultasi dan kerja sama hal - hal yang berkaitan dengan sistem moneter internasional. Terdapat pertemuan yang teratur untuk mengkaji, meninjau, dan mendorong diskusi di antara negara industri maju dan sedang berkembang terkemuka mengenai kebijakan-kebijakan yang mengarah pada stabilitas keuangan internasional dan mencari upaya-upaya pemecahan masalah yang tidak dapat diatasi oleh satu negara tertentu saja.
G20 adalah sebuah forum yang bukan formal.
90% GDP dan 80% perdagangan dunia dikontribusikan oleh G20 ini. Indonesia termasuk dalam Negara G20 ini. Terbentuknya G20 pada tahun 1990an sebenarnya untuk memfasilitasi diantara anggota-anggotanya, baik Negara maju atau berkembang dalam menghadapi permasalahan ekonomi di dunia.
Dari itu semua, kita dapat membayangkan bagaimana keadaan Negara – Negara lain yang tidak terlibat di dalam G20 ini. Karena pada prinsipnya G20 ini adalah “mensejahterakan” anggotanya saja, lantas bagaimana dengan kesejahteraan mereka yang tidak termasuk dengan keanggotaan ini??? Apakah ini adalah bentuk konspirasi dunia modern yang ada dalam mengantisipasi sekaligus “trap” mutakhir bagi Negara – Negara berkembang??? Entahlah……
Yang pasti, dapat dipastikan bahwa dalam setiap pertemuan yang terselenggara secara tahunan ini sangat sarat bahkan kental dengan racikan bumbu – bumbu kapitalisme moderat pada setiap program – programnya. Di sisi lain, sebenarnya kita bisa berfikir mengenai G20 ini adalah sebuah manipestasi “berkelidnya” Negara – Negara kapitalis dari ketidak sempurnaan kapitalisme sebagai sebuah system perekonomiannya, yang katanya bahkan sudah menduania. Benarkah???
Bayangkan, kalau 90% GDP hanya berada dalam lingkaran G20 ini, dimana fungsi distribusi ekonomi??? Belum lagi ditambah dengan 80% perdagangan yang hanya pada lingkaran G20 ini pula… dimanakah keadilan capitalism system yang digembar – gemborkan para bapak ekonominya???
Apakah ada sebuah solusi alternative konkrit untuk mengatasi itu semua??? Jawabnya pasti ada. (Mohamad Toyyib Wibiksana)