Selasa, 14 April 2009

SEMBILAN WASIAT KEKASIH ALLAH

SEMBILAN WASIAT KEKASIH ALLAH


Dalam kitab Hidayatul Adzkiya Ila Thoriqil Auliya, salah satu kitab praktis para wali Allah, ditemukan penjelasan singkat mengenai Thariqah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantaranya mengenai Sembilan Wasiat yang berasal dari orang – orang yang telah wushul (sampai) kepada Allah SWT.
Wasiat tersebut sangat penting dan perlu diketahui oleh setiap muslilm. Barang siapa yang mampu mengamalkan wasiat tersebut insya Allah akan mendapat kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT. Ia akan ber-musyahadah langsung dengan-Nya. Segala tabir tersingkap dan cahaya iman menyala – nyala dari dalam dirinya. Sebaliknya, siapa saja yang mengabaikannya, bukan tidak mungkin ia akan semakin terhijab dari cahaya ilahi. Jiwanya akan semakin sulit terhindar dari kotor dan penuh nafsu angkara.
Karena pentingnya Sembilan wasiat tersebut, maka dalam tulisan ini disajikan ringkasannya, dengan harapan semoga bermanfaat bagi kita bersama di zaman serba “wah” ini. Suatu zaman yang sering melalaikan kita bahwa sesungguhnya tujuan hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya.
Pertama, tobat dari segala maksiat. Tobat memiliki empat rukun. Tanpanya, kita belum tergolong orang uang bertobat. Rukun – rukun tersebut adalah :
1. Menyesali segala perbuatan dosa yang pernah dilakukannya.
2. Berhenti melakukan segala bentuk perbuatan dosa kecil apalagi dosa besar.
3. Bertekad untuk tidak mengulagi kembali segala bentuk perbuatan dosa.
4. Memohon maaf kepada setiap manusia yang telah dizhaliminya.
Tobat adalah kunci pertama untuk mencapai istiqomah. Juga, tobat adalah syarat utama bagi siapapun yang ingin menapaki jalan Allah SWT. Janganlah kita terkecoh oleh khayalan bahwa kita telah dekat dengan Allah, padahal kita belum pernah bertobat kepada-Nya secara hakiki.
Kedua, qona’ah, yakni menerima dengan ridha apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Merasa puas dengan apa yang ada tetapi tidak pasif terhadap segala sesuatu melainkan selalu bersemangat untuk menggapai kemuliaan di dunia ini, lebih – lebih akhirat nanti. Dunia dijadikan jalan untuk menjadi jalan mendapatkan surga-Nya.
Orang yang tidak memiliki sifat qona’ah akan mudah meninggalkan perkara – perkara sunah demi mengejar kemewahan dunia. Jiwanya akan selalu gelisah karena tidak merasa puas dengan yang dimilikinya, melihat dirinya selalu berada dalam kekurangan. Orang yang tidak qona’ah mudah berprasngka buruk kepada Allah SWT.
Ketiga, zuhud terhadap dunia. Artinya menghilangkan rasa cinta kepada dunia. Zuhud bukan berarti menjadi orang miskin melainkan pandai bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. Orang zuhud selalu memenuhi kebutuhan hidup tetapi menghindari segala bentuk kerakusan. Zuhud dalam ajaran orang – orang yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. termasuk dalam maqam yang sangat mulia. Rasulullah saw. Bersabda : “Berzuhudlah di dunia, maka engkau akan menjadi kekasih Allah.” Dalam hadist lain beliau juga bersabda: “Barang siapa yang ingin mendapatkan ilmu tanpa belajar (ilmu langsung dari Allah SWT.) maka hendaklah ia berzuhud di dunia ini.”
Keempat, ta’allum al ‘ilmu asysyar’i, belajar ilmu – ilmu syara’ sepanjang hayat agar ibadahnya kehadirat Allah SWT. semakin sempurna. Selalu menambahkan ilmu pengetahuan agama demi kesempurnaan ibadah bagi orang yang sedang suluk (mendekatkan diri kepada Allah SWT.) hukumnya fardu ‘ain.
Dalam hal ini, tentu saja yang terpenting adalah mengamalkan segala hal yang telah diketahuinya. Sebab tanpa amal, orang yang memiliki ilmu syar’i tidak akan mendapat derajat kedekatan dengan Allah SWT. malah akan membuat dia semakin jauh dari hidayah Allah SWT. Ilmu yang dimiliki akan berbuah menjadi siksa bagi dirinya. Ilmu tanpa amal laksana pohon yang tidak berbuah. Barang siapa yang mengamalkan apa yang telah diketahuinya, maka Allah SWT. akan memberikan ilmu yang belum diketahuinya.
Kelima, tawakal (pasrah) kepada Allah SWT. dengan segala urusan kehidupan yang telah diikhtiyarkan. Tawakal hampir sama dengan jiwa yang selalu bernaung di hadirat Allah SWT. batinnya selalu bergerak menuju Allah sementara dzhahirnya bergerak aktif menyelesaikan segala tugas kehidupan.
Allah SWT. Berfirman : “Barang siapa bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupi segala kebutuhannya,” atau dengan kata lain Allah akan selalu memberikan kemudahan dalam menyelesaikan segala tugas hidupnya. Orang – orang yang bertawakal memiliki jiwa muthmainnah (jiwa yang tenang).
Keenam, ikhlas dengan segala amal. Ada dua macam tingkatan ikhlas. Pertama, melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Dengan tidak mengharap apapun dari amalnya kecuali ridho dan dekat kepada-Nya. Kedua, beribadah kepada-Nya dengan mengharap pahala dan surga-Nya. Derajat yang pertama lebih mulia dibandingkan dengan derajat yang kedua.
Selain dua hal tersebut (tidak ikhlas) dalam beribadah berarti riya, yakni beribadah dengan mengharap imbalan duniawi atau ingin dipuji orang lain. Riya adalah perusak nilai ibadah dihadapan Allah SWT. Riya bagi ahli suluk adalah dosa terbesar, tidak cuma menghilangkan pahala ibadah bahkan riya dapat membawa seseorang dibenci dan disiksa oleh Allah SWT.
Imam Alghazaly berkata : “Di antara tanda orang yang tidak riya adalah hati selalu merasa tenteram beribadah di tempat sunyi yang tiada seorang pun mengetahuinya, dan tidak merasa bahagia jika saat itu hadir orang lain mengetahui ibadahnya.”
Ketujuh, uzlah, yakni menyendiri di tempat tertentu dengan tujuan untuk mengkonsentrasikan diri taqarrub ila Allah. Uzlah tidak sama dengan lari dari tanggung jawab dengan segala persoalan hidup melainkan mensucikan diri sebelum terjun di tengah – tengah umat menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar.
Uzlah atau mengasingkan diri dari manusia dan dunia merupakan salah satu ciri bagi orang – orang yang berkehendak menuju Allah SWT. Uzlah tidak dilaksanakan sepanjang hidup tetapi diamalkan pada waktu – waktu tertentu untuk memulihkan kesucian hidupnya yang bersentuhan dengan dunia yang mau tak mau pasti menimbulkan gangguan dan rintangan di dalam menuju kepada-Nya.
Kedelapan, muhafadzhat al sunani wal adabi yang datang dari rasulullah saw. Yakni berusaha semaksimal mungkin mencontoh segala tindakan nabi Muhammad saw. Baik yang dzhahir maupun yang batin. Sebab tidak ada jalan yang memudahkan dekat dengan Allah SWT. kecuali mencontoh kehidupan rasulullah saw.
Siapa saja yang mengaku dekat dengan Allah swt. Tetapi menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW. berarti ia dalam kesesatan meskipun ia dapat menunjukkan keajaiban – keajaiban yang sangat mengagumkan. Sebab diantara tanda dekat dengan Allah SWT. bukanlah kemampuan menunjukkan hal – hal yang di luar hukum alam, melainkan di lihat dari kearifan hidupnya.
Kesembilan, khifdzul auqaat, disiplin waktu, yakni menjadikan waktu mengandung nilai ibadah di hadapan Allah SWT. Bagi ahlu suluk waktu adalah ibadah. Ia tidak akan membiarkan waktunya sia – sia apalagi di isi dengan hal – hal yang dimurkai oleh Allah SWT.
Para ahli suluk biasanya selalu meneliti waktu – waktunya dengan seksama dan mereka selalu memiliki jadwal pembagian waktu agar tidak menggunakan waktunya untuk hal – hal yang tidak bermanfaat di hadapan Allah SWT.
Demikianlah Sembilan wasiat yang datang dari para kekasih Allah SWT. mudah – mudahan kita semua mampu merenungkannya dan mengamalakannya. Sehingga kita dalam menjalani hidup yang sudah serba modern ini dapat menemukan ketenteraman hidup, hidup bersama Allah dan istiqomah dalam menempuh jalan menuju kepada-Nya. (Mohammad Sodrudin)

Tidak ada komentar: